|
|
 |
|
|
|
|
|
|
| Profil |
| |
1.
|
Pengantar |
| |
Menurut
tutur tinular (kata turun-temurun), nama Candirejo berasal dari kata
Candighra. Seiring waktu berjalan, terjadi perubahan kata atau
penyebutan, Candighra kemudian berubah menjadi Candirga dan selanjutnya
berubah lagi menjadi Candirja, dan pada akhirya seperti nama desa
tersebut saat ini, yaitu Candirejo.
Bila diuraikan, kata Candi (bahasa Jawa) berarti batu dalam bahasa
Indonesia, dan kenyataannya separuh dari luas wilayah desa Candirejo
berupa daerah berbukit yang masuk dalam kawasan pegunungan Menoreh yang
merupakan bekas gunung api. Keberadaan batu itu juga tersimbolkan dalam
beberapa nama tempat yang terkait dengan mitos setempat tentang
bebatuan seperti Watu Kendhil, Watu Ambeng, Watu Dandang yang terletak
di dusun Butuh, Watu Tambak, Watu Tumpuk, Watu Asin, Watu Cekathak yang
letaknya di dusun Sangen dan Kaliduren. Kata Rejo sendiri berarti subur
dan ini merupakan perlambang kesuburan tanah dataran Candirejo,
meskipun merupakan tanah lahan kering. Pada akhirnya Candirejo dapat
diartikan sebagai wilayah yang banyak batu-batunya tetapi subur.
Versi lain mengatakan bahwa nama Candirejo bermula dari ditemukannya
candi di tempat
ini. Berdasarkan bukti-bukti peninggalan di desa Candirejo, pernah
terdapat sebuah candi yakni candi Brangkal (lokasinya di dusun
Brangkal). Bukti peninggalan tersebut berupa batu candi, batu bata,
arca, yoni dan sebagainya, yang merupakan peninggalan agama Hindu.
Desa Candirejo adalah satu dari sepuluh desa yang dijadikan sasaran
pelaksanaan NRM-LCE Project. Natural Resources Management for Local
Community Empowerment (NRM-LCE) Project atau Proyek Pengelolaan
Sumber-sumber daya Alam bagi Keberdayaan Masyarakat Lokal adalah proyek
yang dilaksanakan antara Yayasan PATRA-PALA, masyarakat setempat dan
pemerintah daerah kabupaten Magelang yang didukung oleh dana hibah dari
Japan International Corporation Agency (IICA). Proyek ini merupakan
pengembangan sebuah program konservasi untuk kawasan pegunungan Menoreh
melalui pemberdayaan masyarakat setempat untuk mengkonservasi candi
Borobudur sebagai satu monumen nasional dan warisan budaya dunia..
|
| |
2.
|
Penduduk |
| |
Desa Candirejo memiliki
masyarakat yang mempunyai semangat untuk maju dan berkembang,
di tingkat pemerintah desa maupun masyarakat luas pada umumnya.
Kebudayaan yang berkembang dalam masyarakatnya menjadi potensi yang
bisa dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata berbasis masyarakat,
yakni kerajinan pandan-bambu, sistem pertanian, budaya, tempat-tempat
potensial untuk melakukan kegiatan pengamatan aktivitas harian
masyarakat, keindahan pemandangan dan kegiatan trekking.
Kehidupan masyarakat desa Candirejo yang masih agraris didominasi oleh
kegiatan pertanian. Jika mereka ingin menjual hasil panen dalam jumlah
besar maka mereka akan menuju
ke pasar Borobudur atau pasar Jagalan. Delman (andong) merupakan alat
transportasi
setempat yang masih banyak dipergunakan untuk kegiatan ekonomi
antardesa.
Rumah tradisional mereka berbentuk rumah jawa Kampung dan Limasan.
Rumah dan dapur merupakan bagian yang terpisah dan ini masih tampak
pada beberapa rumah. Kayu bakar masih merupakan pilihan utama sebagai
bahan bakar rumah tangga.
|
| Fasilitas Wisata |
| |
|
Daya
Tarik Wisata
|
| |
Sebagai
salah satu desa yang menjadi sasaran program NRE-LCE, desa Candirejo
diharapkan dapat mempertahankan keasliannya, baik tradisi penduduknya,
maupun lingkungan alam sekitarnya. Oleh karena itu, daya tarik wisata
utama dari desa Candirejo adalah segala keunikannya, berupa kebudayaan
tradisional, terkait keaslian kehidupan desa yang alami.
Pemberdayaan masyarakat akan manfaat alam sekitar merupakan salah satu
agenda dalam program NRE-LCE. Hasil dari proses ini diharapkan mampu
meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat secara ekonomi. Salah satu
tolak ukur dari keberhasilan program ini adalah adanya hasil-hasil
kerajinan yang dibuat oleh masyarakat desa Candirejo dengan
memanfaatkan alam sekitarnya. Hasil-hasil kerajinan khas desa Candirejo
dapat menjadi cinderamata dari desa ini kepada para pengunjungnya.
|
| |
1. Upacara Adat
|
| |
Nyadran
adalah upacara adat mengirim doa untuk leluhur yang dilaksanakan
setahun sekali, yakni pada bulan Ruwah (bulan pada kalender Jawa),
dalam rangka menyambut bulan Ramadhan. Upacara Nyadran di tingkat desa
dilaksanakan di gunung Mijil, sebuah bukit kecil yang terletak di
perbatasan desa, yang dipimpin oleh juru kunci gunung Mijil. Sedangkan
upacara Nyadran di tingkat dusun dipimpin oleh kepala dusun atau tokoh
agama. Dalam upacara ini juga diberikan sesajian kepada para leluhur
yang dimaksudkan agar para leluhur juga menikmati hasil bumi selama
ini. Makanan yang disiapkan untuk upacara ini adalah Ingkung, yakni
ayam utuh yang direbus dengan bumbu rempah-rempah atau dalam istilah
setempat di-"ukep". Ingkung kemudian disajikan bersama dengan nasi dan
sayuran.
Upacara besar lainnya adalah Saparan dan Perti Desa (Bersih
Desa/Sedekah Bumi) yang
dilaksanakan setahun sekali pada tanggal 15 bulan Sapar (kalender Jawa)
di balai desa.
Tujuan upacara ini adalah wujud syukur atas panen yang telah berlalu,
sekaligus permohonan
kepada Tuhan Yang Maha Esa agar keselamatan senantiasa dilimpahkan dan
hasil pertanian
semakin meningkat. Bentuk dari Saparan adalah upacara Perti Desa yang
mempunyai arti
memelihara dan menata desa agar lebih bermanfaat.
Rangkaian acara Perti Desa adalah:
a. Sedekah Bumi/Selamatan Desa,
Komponen selamatan desa adalah;
- Nasi gurih berbentuk tumpeng
dan kelengkapannya, ingkung ayam jago. Makna tumpeng
sebelum datangnya pengaruh ajaran Islam yang dibawa oleh Wali Sanga,
ialah gambaran gunung keramat Himalaya dengan puncak Suralaya tempat
bertahtanya para Dewa (menurut ajaran Hindu). Ingkung ayam jago
bermakna suatu penyerahan diri secara utuh dan bulat (tidak mendua) dan
ajeg selamanya. Namun setelah ajaran Islam masuk dengan pengaruh ajaran
Wali Sanga (khususnya sunan Kalijaga), hal tersebut dimaknai simbol
hormat dan ketaatan kepada kanjeng nabi agung Muhammad SAW, sehingga
nasi tumpeng gurih dan ingkung ayam jago dinamai Rasulan.
- "Golong Milang Dusun" yang
berwujud nasi golong sejumlah 15 (lima belas) dan merupakan
perlambang 15 dusun yang ada di desa Candirejo.
- Nasi Golong sejumlah 9
(sembilan) buah bermakna "golong-gliging" (Jawa; niat),
"manunggale Kawula Gusti" (Jawa; bersatu seluruh masyarakat dan
pemimpinnya),
bersatunya "jagad cilik" (Jawa; mikrokosmos) dan "jagad gedhe" (Jawa;
makrokosmos).
Sedangkan bilangan 9 (angka sembilan) adalah angka agung, sebab
dikalikan dengan angka berapapun bila angkanya dijumlahkan selalu
menghasilkan angka 9.
- "Larakan" (Jawa; sajian)
yang terdiri atas hasil bumi yang disebut "pala kepedhem",
"pala gumantung", "pala kasimpar" yang bermakna permohonan agar hasil
pertanian
membawa barakah dan manfaat.
- "Golong Kencana" (Jawa;
golong ketan yang ditutup dan didasari telur dadar dan
tanpa garam). Awalnya untuk "bekti Dewi Pertiwi"; setelah ada pengaruh
Islam,
bertujuan untuk berbakti dan mengenang jasa dewi Siti Fatimah, putri
Rasulullah SAW;
bahwa panutan wanita adalah Siti Fatimah (masyarakat desa menyebutnya
dengan nama
Dewi Siti Pertimah).
b. Wayangan
Dalam wayangan, hal yang perlu dipersiapkan adalah sajian (hidangan)
sebagai berikut.
- Jajan pasar, melambangkan
permintaan, supaya para petani mudah menjual hasil panennya
dan pedagang mudah mencari dan menjual dagangannya serta mendapat
keuntungan.
- Ingkung panggang, maksudnya adalah untuk
mengingat asal mula kejadian manusia,
bahwa manusia berasal dari tidak ada menjadi ada dan kembali tidak ada.
- Kelapa dua pasang,
melambangkan bahwa hakekatnya isi dunia itu ada dua,
yaitu siang dan malam, sedih gembira, miskin kaya, mati dan hidup dan
seterusnya.
- Ayam kecil (hidup),
melambangkan sesuatu yang dimintakan itu dapat hidup dan berlanjut.
Hidup adalah tumbuh dan berkembang, misal lahir, merangkak, berjalan
dan menjadi besar.
Upacara-upacara adat di atas merupakan perlambang hubungan antara
manusia dengan Tuhan-nya, manusia dengan leluhurnya, manusia dengan
sesamanya, dan manusia dengan lingkungannya. Simbol itu muncul dalam
bahasa Jawa, "Memetri Bapa Ngangkoso Ibu Pertiwi". Bapa Ngangkoso
adalah perlambang langit yang merupakan datangnya hujan; air untuk
kehidupan, Ibu Pertiwi adalah perlambang bumi yang merupakan sumber
kehidupan. Simbol tersebut menjadi perlambang hubungan bumi
(alam/lingkungan) dengan manusia yang juga muncul dalam berbagai bentuk
upacara yang lain; seperti kenduren, selamatan, mithoni dan upacara
adat lainnya.
|
2. Kesenian Tradisional |
| |
Desa Candirejo juga memiliki sejarah sebagai tempat persinggahan
pengikut pangeran Diponegoro (salah satu pahlawan perjuangan Indonesia)
ketika berperang dengan tentara Belanda sekitar tahun 1825. Sebagai
peninggalan budaya, momen itu tercurah dalam satu arian yang dikenal
dengan nama Jathilan, yang menggambarkan latihan perang pasukan berkuda
pangeran Diponegoro. Kesenian ini berkembang sejak tahun 1920-an dan
memiliki beberapa versi.
Musik pengiring dari kesenian ini adalah karawitan. Jenis kesenian
lainnya adalah kesenian wayang. Kesenian ini muncul ketika pengaruh
agama Budha memasuki pulau Jawa. Wayang digunakan untuk menyebarluaskan
ajaran agama Budha dan pihak kerajaan menggunakannya menjadi media
penyampai pesan. Sampai saat ini kesenian wayang berkembang menjadi
media pembelajaran masyarakat tentang nilai dan norma yang harus
dimiliki manusia. Ada beberapa jenis wayang dalam kebudayaan Jawa,
yakni wayang orang, wayang kulit dan wayang golek. Pementasan wayang
kulit kerap dilakukan bila ada upacara adat atau saat hajatan desa.
Keunikan wayang kulit adalah ia terbuat dari kulit kambing yang telah
disamak dan dikeringkan, kemudian diukir sesuai dengan karakter peran
dan alur cerita dalam kitab pewayangan. Setelah pengaruh budaya agama
Budha, maka terjadi peralihan ke budaya yang dibawa oleh agama Islam.
Pengaruh ini tampak dalam jenis kesenian yang kemudian muncul di desa
ini, seperti tarian Gatholoco/Wulangsunu, Kubrosiswo dan Shalawatan
dengan isi syairnya berupa tuntunan hidup bagi umat manusia.
Tarian Gatholoco/Wulangsunu dipentaskan secara berpasangan dalam baris
berbanjar dan
berjumlah genap. Dinamakan kesenian Wulangsunu karena dalam
syair-syairnya ada bab
wulangsunu. Wulangsunu berasal dari kata wulang yang artinya mendidik,
memberi nasihat
dan sunu yang berarti anak. Kesenian ini berfungsi ganda sebagai sarana
hiburan dan sebagai tuntunan.
Kesenian lain adalah Kubrosiswo, yang termasuk salah satu jenis
kesenian Magelang. Kesenian ini ada sejak tahun 1965 di desa Candirejo.
Ini adalah satu jenis kesenian yang bernafaskan Islam. Musik pengiring
mirip dengan lagu perjuangan dan qasidah, tetapi liriknya telah diubah
sesuai misi Islam.
|
| |
2.
|
Cinderamata |
| |
|
1.
Kerajinan Pandan
Desa Candirejo dan sekitarnya, yang terletak di pegunungan Menoreh
memiliki kekayaan sumber daya alam pandan. Pandan ditanam sebagai
tanaman pembatas antarlahan dan tepi jalan. Tanaman ini banyak ditemui
di bagian atas desa Candirejo, yakni di dusun Ngaglik, dusun
Wonosari, dusun Kerekan dan dusun Butuh dengan lahan seluas kira-kira
(18 ha).
Agak berbeda dengan pandan yang ditanam di tepi pantai, ukuran daun
pandan di kawasan pegunungan Menoreh ini lebih kecil dan sempit. Pandan
menjadi berpotensi sebagai bahan baku kerajinan karena sifat serat
daunnya yang keras. Masyarakat menggunakan teknologi sederhana untuk
mengolahnya menjadi bahan baku pembuatan tikar pandan.
Pandan yang telah menjadi tikar kemudian dipergunakan sebagai bahan
baku pembuatan berbagai macam produk kerajinan tas, kuda Jathilan
kecil, dan produk lain yang telah diproduksi dalam jumlah terbatas dan
dipasarkan di pasar desa, dan pasar cinderamata yang berada di taman
candi Borobudur.
2.
Kerajinan Bambu
Desa Candirejo memiliki sumber daya bambu yang berlimpah terutama di
daerah bantaran sungai Sileng dan sungai Progo. Empat jenis bambu yang
tumbuh dan banyak dipergunakan adalah jenis pring wulung (bambu hitam),
pring petung (bambu berdiameter besar), pring legi, dan pring ijo
(bambu apus). Masyarakat desa Candirejo memanfaatkan bambu untuk
membuat perabot rumah tangga, peralatan dapur, pagar rumah, penyangga
pohon rambutan serta dinding rumah. Selain untuk keperluannya sendiri,
masyarakat Candirejo juga banyak yang memanfaatkan bambu sebagai sarana
penghasilan tambahan. Bambu banyak dipakai untuk membuat kerajinan
tangan dan perabot rumah tangga yang dapat dipesan dan dibeli oleh para
pelancong. Hasil-hasil olahan bambu yang ada di desa Candirejo antara
lain adalah rak buku, tempat tidur, kursi, dan lukisan bambu.
|
| |
|
| |
Desa Candirejo dilengkapi dengan sarana akomodasi yang cukup baik.
Untuk mempertahankan
suasana pedesaan yang masih asli, maka sarana akomodasi yang disediakan
di desa Candirejo
berupa pondok-pondok penginapan (home stay) yang diusahakan sendiri
oleh masyarakat
desa Candirejo.
Berikut ini adalah daftar pondok-pondok penginapan yang ada di desa
Candirejo.
Nama Pondok
|
Nama
Pemilik |
Jumlah
Kamar
|
|
|
|
| Alamanda
|
Bapak
Utoyo |
2
|
| Amarilis
|
Bapak
Agus Sutanto |
2
|
| Bunga
Bakung |
Bapak
Suramidi |
2
|
| Bunga
Matahari |
Bapak
Endro Suwarto |
2
|
| Cempaka |
Bapak
Suhadi |
2
|
| Ceplok
Piring |
Handi
Kuswanto |
2
|
| Edelweiss
|
Bapak
Maduk Sasono |
2
|
| Kembang
Setaman |
Bapak
Tatak Sariawan |
2
|
| Kenanga |
Bapak
Harjiyanto |
2
|
| Lavender
|
Bapak
Murwanto |
2
|
| Lily |
Ibu
Susana |
5
|
| Mawar |
Ibu
Genduk Tusiarno |
3
|
| Melati |
Bapak
Alpandi |
3
|
| Nusa
Indah |
Bapak
Tribianto |
2
|
| Rafflesia
|
Bapak
Budi |
2
|
| Sakura |
Bapak
Sareh Heryanto |
3
|
| Seruni |
Bapak
Teguh |
2
|
| Soka |
Bapak
Darsono |
2
|
| Tapak
Dara |
Bapak
Digdo Wijono |
2
|
| Wijaya
Kusuma |
Bapak
Sumidi |
2
|
|
| |
|
|
| Paket Wisata |
| |
Desa wisata Candirejo
menawarkan beberapa paket wisata. Di bawah ini merupakan daftar
paket-paket wisata yang terdapat di desa Candirejo. |
| |
-
Tamasya Keliling Desa
Paket ini menawarkan eksplorasi penjelajahan desa Candirejo, baik
dengan berjalan kaki, atau menggunakan sarana angkutan delman (andong)
desa. Pada kesempatan ini, para pelancong akan disuguhi dengan keunikan
tradisi dan budaya masyarakat setempat, kesenian dan kerajinan rakyat,
serta metode sistem pertanian tradisional.
- Wisata Menoreh
Paket ini menawarkan kesempatan kepada para pelancong untuk mendapatkan
pengalaman
yang tak terlupakan tentang kehidupan sehari-hari dari masyarakat yang
tinggal di kawasan Menoreh. Pada kesempatan ini, para pelancong akan
menemukan kehidupan habitat asli dari burung-burung yang hidup di
daerah ini. Para pelancong juga dapat menikmati keindahan kebun-kebun
tanaman obat dan melihat sistem pertanian tradisional yang diterapkan.
- Sistem Pertanian Desa
Paket wisata ini akan meningkatkan kesadaran kita akan pentingnya
pelestarian dan pemeliharaan sumber-sumber daya alam, terutama yang
berada di desa Candirejo. Para pelancong dapat langsung merasakan dan
mengerjakan bagaimana rasanya berinteraksi dengan alam di areal
pertanian, juga dapat ikut berpartisipasi dalam memanen buah-buahan
segar langsung dari lokasi pembudidayaannya.
- Aktifitas Sungai
Ingin dapat menangkap ikan selincah para penduduk lokal? Bila ya, mari
ikuti paket wisata ini dan bergabung dengan komunitas "Nylantrang"
(komunitas para penangkap ikan). Para pelancong dapat merasakan sendiri
asyiknya menangkap ikan di sungai,juga dapat menikmati segarnya
berenang dan mandi di sungai, tentu saja semua itu dalam pengawasan
pemandu wisata.
- Pendidikan Lingkungan (Alam)
Paket wisata ini menawarkan pendidikan tidak langsung tentang
lingkungan hidup kepada para pelancong. Para pelancong diharapkan dapat
mengerti dan sadar akan pentingnya pelestarian dan pengelolaan alam dan
lingkungan demi kelangsungan hidup saat ini dan generasi mendatang.
Pelajarilah sistem pertanian organik, proses produksi bibit-bibit
organik, dan bentuk pelestarian alam yang dilakukan oleh masyarakat
setempat, misalnya "ilag-ilag'.
- Kehidupan Masyarakat Setempat
Para pelancong dapat tinggal di sebuah pondok penginapan milik
penduduk, dan merasakan
langsung suasana tradisional Jawa yang masih sangat melekat di
tiap-tiap keluarga. Di
sini, para pelancong dapat mengamati rutinitas sehari-hari dari
masyarakat setempat,
mulai dari menyiapkan masakan, cara memasak, sampai suasana tinggal di
rumah-rumah desa.
- Kesenian Tradisional
Para pelancong memiliki kesempatan untuk menikmati berbagai kesenian
tradisional di desa Candirejo. Tiap-tiap kesenian memiliki
karakteristiknya masing-masing. Aktifitas menikmati kesenian
tradisional di tengah-tengah komunitas penduduk desa akan memberikan
nuansa tersendiri bagi para pelancong.
|
|
Sarana
Tranportasi |
| |
|
Desa
Candirejo dapat dicapai melalui salah satu dari tiga kota besar, yaitu
Semarang, Solo, dan Yogyakarta. Beberapa transportasi darat tersedia
untuk digunakan berkunjung ke desa Candirejo.
Jarak Semarang ke desa Candirejo sekitar 90 km. Bila berangkat dari
bandara Ahmad Yani Semarang, dapat menggunakan taksi untuk mencapai
desa Candirejo. Bila menggunakan bus, tersedia rute Semarang-Magelang.
Dari Magelang menuju desa Candirejo, dapat memakai jasa angkutan umum,
ojek, atau delman.
Jarak Solo ke desa Candirejo sekitar 100 km. Untuk menuju desa
Candirejo dari kota Solo, dapat memakai jasa taksi yang berangkat dari
lapangan udara Adi Sumarmo Solo. Bisa juga menggunakan bus yang
berangkat dari terminal Tirtonadi ke terminal Umbulharjo. Dari terminal
Umbulharjo, tersedia bus yang mengantar ke terminal Borobudur. Dan dari
terminal Borobudur, tersedia sarana angkutan umum, ojek, dan
delman/andong yang menuju ke desa Candirejo.
Jarak Yogyakarta ke desa Candirejo sekitar 40 km. Dari kota ini menuju
desa Candirejo, tersedia beberapa sarana transportasi. Taksi dapat
digunakan langsung menuju ke desa Candirejo dari lapangan udara Adi
Sutjipto Yogyakarta. Bila menggunakan bus, rute terminal Umbulharjo
menuju terminal Borobudur dapat dipergunakan. Dari terminal Borobudur
menuju desa Candirejo, dapat menggunakan jasa angkutan umum, ojek, dan
delman/andong..
|
Pusat Informasi
Pariwisata |
| |
|
Koperasi Desa Wisata Candirejo
Sangen, Candirejo, Borobudur, Magelang
Jawa Tengah, Indonesia 56553
Telepon: +62(293)788608
Telepon Seluler: (+62)8175414855 [Nama kontak: Ian],
(+62)81328808520 [Nama kontak: Tatag]
|
|
Hubungi Kami |
| |
|
Koperasi
Desa Wisata Candirejo
Sangen, Candirejo, Borobudur, Magelang
Jawa Tengah, Indonesia 56553
Telepon: +62(293)788608
Telepon Seluler: (+62)8175414855 [Nama kontak: Ian],
(+62)81328808520 [Nama kontak: Tatag]
|
|
 |